Beberapa Fakta Menarik tentang Koperasi dan UKM di 2019


Fakta Menarik tentang Koperasi dan UKM

Beberapa Fakta Menarik tentang Koperasi dan UKM di 2019

Tak terasa, tahun 2018 sudah mencapai penghujungnya. Itu artinya, sebentar lagi tahun 2019 tiba.
Menjelang pergantian kalender, ada banyak hal yang harus dipersiapkan. Salah satunya adalah masalah ekonomi. Hal ini patut menjadi perhatian mengingat keadaan ekonomi di tahun mendatang belum tentu sama dengan tahun sekarang.
Untuk melihat seperti apa gambaran ekonomi Indonesia pada 2019, maka Kementerian Koperasi mengadakan diskusi. Dengan mengusung tema “Proyeksi Perekonomian 2019: Peluang dan Tantangan bagi KUKM (Koperasi dan UKM)”, acara diskusi ini dilakukan di Auditorium Kementerian Koperasi dan UKM, Jakarta, Rabu (7/11).
Berkaitan dengan hal itu, maka inilah berbagai fakta tentang proyeksi ekonomi 2019 dan kaitannya terhadap Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Fakta-fakta ini perlu kita ketahui sebagai upaya bagi kita dalam mengatasi dan mengantisipasi tantangan-tantangan yang ada pada tahun 2019.

1. Kontribusi Koperasi dan UKM Diproyeksikan Meningkat

Dari waktu ke waktu, kontribusi Koperasi dan UKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia terus mengalami peningkatan. Pada 2014, kontribusi Koperasi dan UKM hanya mampu menyentuh angka sebesar 1,71 persen. Pada 2016, jumlahnya menjadi 3,9 persen, kemudian pada 2017 jumlahnya bertambah lagi menjadi 4,48 persen.
Untuk angka kontribusi pada 2018 memang belum diketahui. Namun, melihat tren positif yang selalu dialami oleh kontribusi Koperasi dan UKM dalam beberapa tahun belakangan membuat Kepala Biro Perencanaan Kementerian Koperasi dan UKM, Ahmad Zabadi, optimis. Melalui data-data yang telah ada sebelumnya, ia percaya bahwa kontribusi Koperasi dan UKM tahun ini akan meraih angka 5 persen.
“Untuk tahun ini, saya prediksikan kontribusinya dapat menyentuh lima persen,” ujarnya seperti yang disampaikan dalam diskusi di Kementerian Koperasi dan UKM pada 7 November 2018.

2. Unjuk Gigi Koperasi di Tingkat Dunia

Dua dari koperasi Indonesia masuk dalam jajaran 300 koperasi berskala global. Dua nama yang dimaksud adalah Koperasi Warga Semen Gresik dan Koperasi Kisel. Sebagai orang Indonesia, kita patut berbangga. Hal ini menandakan bahwa koperasi Indonesia tidak kalah dengan berbagai koperasi dari negara-negara lain.
Namun, jumlah tersebut tidaklah mutlak. Dengan banyaknya koperasi Indonesia yang potensial, seperti Koperasi Sidogiri, Koperasi Kospin Jasa dan lainnya, menjadikan peluang bagi Indonesia dalam bidang koperasi di kancah global menjadi terbuka lebih lebar. Maka dari itu, bukan tidak mungkin, pada 2019 jumlah koperasi Indonesia yang naik kelas akan semakin banyak.

Baca Juga : 20 Peluang Usaha Rumahan di Desa Yang Menguntungkan

3. UKM Terpapar Dampak Ekonomi Global

Beberapa waktu belakangan, dunia ekonomi mengalami perubahan. Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) diperkirakan tetap kuat. Namun, pertumbuhan ekonomi pada negara-negara emerging market dan Eropa justru diperkirakan lebih rendah.
Yang menarik, keadaan ekonomi pada krisis moneter tahun 1998 dengan masa sekarang akan memberikan hasil berbeda pada perkembangan UKM di Indonesia. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Ryan Kiryanto selaku Corporate Secretary and Chief Economist BNI dalam acara diskusi di Kementerian Koperasi dan UKM,
Rabu (7/11).
Saat krisis moneter tahun 1998, keadaan ekonomi global saat itu tidak berpengaruh terhadap Koperasi dan UKM. Penyebabnya adalah karena pada masa itu hampir tidak ada UKM yang melakukan pinjaman uang kepada pihak asing.
Namun, hal tersebut tidak berlaku pada masa kini. Dengan diberlakukannya normalisasi kebijakan moneter Amerika yang berdampak pada penguatan dolar AS, gejolak ekonomi global yang terjadi membuat UKM di Indonesia mengalami dampaknya. Telah bersentuhannya para pelaku UKM dengan valuta asing (valas) menjadi penyebabnya.

Baca Juga : Sejarah Pembentukan KUD (Koperasi Unit Desa)

Walau para pelaku UKM akan terkena dampaknya, hal itu tidak perlu dikhawatirkan. Menurut Ryan, pengusaha Indonesia telah berpengalaman dalam mengarungi arus dinamika ekonomi, sehingga dampak yang akan dirasakan tidak terlalu besar.
Daya beli masyarakat yang masih baik juga turut berperan dalam menjaga kestabilan keadaan ekonomi Indonesia, khususnya dalam hal UKM. Hal ini dapat dilihat dari tingkat konsumsi rumah tangga pada kuartal III tahun 2018 yang mencapai sekitar 5,01 persen. Sementara itu, sebelumnya lebih tinggi, yakni menyentuh 5,14 persen di kuartal II.
Itulah beberapa fakta yang disampaikan dalam acara diskusi Kementerian Koperasi dan UKM (7/11). Dengan adanya pemaparan tersebut membuat kita yakin bahwa masa depan ekonomi Indonesia akan cerah ke depannya.
Hal yang terpenting adalah bagaimana kita juga turut berperan dari hal-hal sekecil apapun. Membeli produk UKM buatan negeri sendiri adalah salah satu caranya.

ref: kumparan.com

koperasi-kud


 

EVENT KEGIATAN |INFO KUD | INFORMASI & BERITA | PRODUK KUD | PROGRAM UNGGULAN | DIREKTORI KUD | KOPERASI UNIT DESA

 

Previous 3 Strategi Sukses Membuka Bisnis Tanpa Modal
Next Program Pemberdayaan SDM

No Comment

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *